Kendalikan PTM Berbasis Data, Kampar Luncurkan Pilot Project GO-CARE di Sendayan

KAMPAR UTARA – Pemerintah Kabupaten Kampar melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar bersama Dinas Kesehatan Provinsi Riau resmi meluncurkan Pilot Project GO-CARE & GAHOP Insight PTM di Desa Sendayan, Kecamatan Kampar Utara, sebagai upaya memperkuat pencegahan dan pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) berbasis data, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor.

Program ini menjadi langkah awal pembangunan model pengendalian PTM berbasis desa yang tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga pada penguatan peran masyarakat, pemerintah desa, kader kesehatan, PKK, serta berbagai pemangku kepentingan dalam mengendalikan faktor risiko PTM secara berkelanjutan.

Kegiatan yang dihadiri oleh unsur Pemerintah Kecamatan Kampar Utara, Pemerintah Desa Sendayan, Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar, Puskesmas Kampar Utara, kader kesehatan, PKK, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur lintas sektor tersebut menandai dimulainya komitmen bersama untuk menjadikan Desa Sendayan sebagai desa percontohan pengendalian PTM di Kabupaten Kampar. Kamis (11/6/2026)

Camat Kampar Utara sekaligus Pjs. Kepala Desa Sendayan, Syamsurizal, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Desa Sendayan sebagai lokasi pilot project.

"Kami menyambut baik program ini karena kesehatan masyarakat merupakan fondasi utama pembangunan desa. Kami berharap seluruh unsur masyarakat dapat berpartisipasi aktif dan menjadikan kesehatan sebagai gerakan bersama," ujarnya.

Mewakili Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar, Elfian, SKM, M. Kes menyampaikan bahwa tantangan Penyakit Tidak Menular saat ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui pelayanan kesehatan semata.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian PTM memerlukan dukungan data yang akurat, keterlibatan masyarakat, serta kolaborasi berbagai sektor pembangunan.

"Melalui GO-CARE dan GAHOP Insight PTM, kita ingin memastikan bahwa setiap intervensi kesehatan dilakukan berdasarkan data yang nyata di lapangan. Dengan mengetahui profil risiko masyarakat secara lebih akurat, maka langkah pencegahan dan pengendalian yang dilakukan akan menjadi lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan," jelasnya.

Elfian menegaskan bahwa GO-CARE dan GAHOP Insight PTM bukanlah program yang mengambil alih fungsi pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas, melainkan model penguatan kolaborasi yang mempertemukan berbagai pihak untuk bekerja bersama dalam mengendalikan faktor risiko PTM.

Inovasi ini dikembangkan untuk menjembatani hasil skrining dan data kesehatan masyarakat dengan aksi nyata di tingkat desa. Dengan dukungan pemerintah desa, kader kesehatan, PKK, dan tokoh masyarakat, hasil pemetaan faktor risiko dapat ditindaklanjuti melalui kegiatan promotif, preventif, dan pendampingan yang mendukung pelayanan kesehatan yang telah dilakukan Puskesmas. Dalam model ini, Puskesmas tetap berperan sebagai penanggung jawab teknis pelayanan kesehatan, sementara pemerintah desa, kader kesehatan, PKK, dan unsur masyarakat berperan dalam mendukung identifikasi faktor risiko, pendampingan masyarakat berisiko, serta penguatan perilaku hidup sehat di tingkat komunitas.

Sementara itu, narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau, dr. Zuainah Sastrawati, M.Gz, menyampaikan bahwa pengendalian Penyakit Tidak Menular tidak dapat dilakukan hanya melalui pelayanan kesehatan, tetapi memerlukan keterlibatan aktif masyarakat serta penguatan upaya promotif dan preventif hingga ke tingkat desa.

Menurutnya, deteksi dini, pengendalian faktor risiko, serta perubahan perilaku hidup sehat merupakan investasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.

"Semakin dini faktor risiko dikenali, semakin besar peluang kita untuk mencegah terjadinya komplikasi penyakit. Karena itu, peran masyarakat, kader kesehatan, pemerintah desa, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi sangat penting dalam upaya pengendalian PTM," ujarnya.

Sementara itu, narasumber dari *Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Provinsi Riau, Mishbahuddin, SKM., MAHM., M.Pd., PhD. menegaskan bahwa pengendalian PTM saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih strategis melalui pemanfaatan data dan penguatan peran masyarakat sebagai aktor utama perubahan.

"Data yang baik akan menghasilkan kebijakan yang baik. Ketika desa memiliki gambaran yang jelas mengenai faktor risiko kesehatan masyarakatnya, maka intervensi yang dilakukan akan lebih tepat sasaran dan memberikan dampak yang lebih besar," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa GO-CARE dan GAHOP Insight PTM dirancang untuk membantu desa mengenali profil risiko kesehatan masyarakat secara lebih akurat sehingga intervensi yang dilakukan tidak hanya bersifat umum, tetapi benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.***

0 Komentar

© Copyright 2022 - Kamparsatu.com - Fakta dan Berita Akurat